Minggu, 16 Mei 2010

FOBIA SEKOLAH

Suatu fobia asalah rasa takut yang irasional (tidak masuk akal) dan berlebihan terhadap suatu benda, keadaan atau fungsi tubuh yang sesungguhnya tidak berbahaya.

Fobia berbeda dari rasa takut yang merupakan bagian normal dari perkembangan anak atau rasa takut akibat konfilk di dalam keluarga.
Fobia sekolah merupakan merupakan salah satu contoh dari rasa takut yang berlebihan. Fobia sekolah bisa menyebabkan anak berumur 6 atau 7 tahun tidak mau pergi ke sekolah. Anak secara langsung menolak pergi ke sekolah atau mengeluh sakit perut, mual maupun gejala lainnya yang memungkinkan dia bisa tinggal di rumah. Kemungkinan anak tersebut menunjukkan reaksi yang berlebihan terhadap guru yang galak, yang bisa menimbulkan rasa takut pada anak yang perasaanya peka/halus.
Pada anak yang lebih besar (umur 10-14 tahun), fobia sekolah bisa menunjukkan adanya masalah psikis yang lebih serius.

Anak yang mengalami fobia sekolah sebaiknya segera kembali sekolah sehingga pelajarannya tidak tertinggal. Jika fobianya sangat berat sampai mengganggu aktivitas anak dan anak tidak memberikan respon terhadap dorongan orang tua maupun gurunya, mungkin perlu dilakukan konsultasi dengan psikolog atau ahli jiwa.
Pada anak yang lebih besar mungkin tidak perlu segera memintanya kembali sekolah, pengobatannya tergantung kepada hasil penilaian status mentalnya.

Ketakutan yang normal, yang biasa ditemukan pada masa kanak-kanak:
- Takut gelap, monster, serangga dan laba-laba (umur 3-4 tahun)
- Takut terluka dan takut mati (lebih sering ditemukan pada anak yang lebih besar)
- Cerita, film atau acara televisi yang menakutkan bisa memperburuk rasa takut anak
- Pernyataan orang tua ketika marah atau bergurau bisa dianggap serius oleh anak balita dan bisa menimbulkan rasa takut pada mereka
- Reaksi anak yang pemalu terhadap situasi yang baru, pada awalnya berupa rasa takut atau menarik dirnya.
Orang tua sebaiknya menenangkan anaknya dengan mengatakan bahwa monster itu sesungguhnya tidak ada, laba-laba itu tidak berbahaya atau apa yang dilihatnya di televisi itu tidak benar-benar terjadi.
Jika pernyataan orang tua ketika marah atau bercanda menyebabkan anak menjadi takut, sebaiknya orang tua menjelaskan maksud yang sesungguhnya agar anak tidak terus menerus takut.
Anak yang pemalu sebaiknya dibantu untuk beradaptasi dengan situasi yang baru dengan cara lebih sering mengajaknya ke berbagai lingkungan yang baru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar