Minggu, 16 Mei 2010

ENURESIS NOKTURNAL

Enuresis nokturnal (bed-wetting) adalah buang air kecil secara tidak sengaja dan terjadi secara berulang ketika sedang tidur, pada seorang anak yang sudah cukup besar dan semestinya sudah tidak mengompol lagi di tempat tidur.

Sekitar 30% anak berumur 4 tahun, 10% anak berumur 6 tahun, 3% anak berumur 12 tahun dan 1% anak berumur 18 tahun masih mengompol di tempat tidur.
Bed-wetting lebih sering ditemukan pada anak laki-laki.

Penyebabnya biasanya adalah terlambatnya proses pendewasaan, yang kadang disertai dengan gangguan tidur (misanya tidur sambil berjalan atau teror malam).
1-2% kasus disebabkan oleh kelainan fisik (biasanya berupa infeksi saluran kemih).
Bed-wetting juga kadang disebabkan oleh masalah psikis.

Kadang bed-wetting berhenti kemudian timbul lagi. Kekambuhan ini biasanya terjadi karena anak mengalami peristiwa yang menegangkan atau karena anak menderita kelainan fisik (misalnya infeksi saluran kemih).

Untuk anak yang berumur kurang dari 6 tahun, biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan, hanya menunggu sampai gejalanya hilang dengan sendirinya.
Setiap tahunnya, pada 15% anak yang berumur lebih dari 6 tahun, bed-wetting akan berhenti dengan sendirinya. Jika hal ini tidak terjadi, bisa dicoba salah satu dari 3 jenis pengobatan berikut: (melindungi) serta menghindari perpisahan maupun lingkungan yang baru. Respon seperti ini bisa menyebabkan terjadinya gangguan pada pematangan/pendewasaan dan perkembangan anak.
  1. Konsultasi dan terapi perilaku.
    Konsultasi melibatkan anak dan orang tua; diberikan penjelasan bahwa bed-wetting memang agak sering terjadi, dapat diperbaiki dan tidak perlu menimbulkan rasa bersalah pada siapapun.

    Terapi perilaku untuk anak:
    - Menandai pada penanggalan/kalender malam-malam dimana dia mengompol maupun tidak
    - Menahan diri untuk tidak minum 2-3 jam sebelum tidur
    - Melakukan buang air kecil sebelum tidur
    - Mengganti pakaian dan seprenya sendiri jika mengompol.

    Terapi perilaku untuk orang tua:
    - Tidak menghukum atau memarahi anak karena mengompol
    - Memberikan pujian/hadiah jika anak tidak mengompol (misalnya memberikan tanda bintang pada kalender atau hadiah lainnya, tergantung kepada usia anak).

  2. Alarm ngompol.
    Merupakan metode pengobatan yang paling efektif, mampu menyembuhkan 70% anak yang mengompol dan hanya 10-15% yang mengompol kembali setelah metode ini dihentikan.
    Metode ini tidak mahal dan mudah diterapkan meskipun cara kerjanya lambat.
    Alarm akan berbunyi jika telah keluar beberapa tetes air kemih. Pada beberapa minggu pertama, anak akan terbangun setelah ngompol. Beberapa minggu berikutnya anak terbangun setelah sedikit mengeluarkan air kemihnya dan tempat tidurnya belum terlalu basah. Lama-lama anak akan terbangun karena ingin buang air kecil dan tempat tidurnya masih kering.
    Alam ini boleh dilepas setelah 3 minggu anak tidak mengompol.

  3. Terapi obat.
    Pemberian obat pada saat ini lebih jarang dilakukan karena alarm ngompol lebih efektif dan obat-obatan mungkin akan menimbulkan efek samping.
    Jika pengobatan lainnya gagal dan orang tua sangat menginginkan pemberian obat, biasanya diberikan imipramin.

    Imipramin adalah obat anti-depresi yang mengendurkan kandung kemih dan memperkuat sfingteryang menghambat aliran air kemih. Keuntungan dari pemberian obat adalah cara kerjanya yang cepat.
    Setelah selama 1 bulan anak tidak mengompol, dosisnya diturunkan dan diberikan selama 2-4 minggu, kemudian pemberian obat dihentikan.

    Sekitar 75% anak akan ngompol kembali setelah obat dihentikan. Jika hal ini terjadi, bisa dicoba diberikan obat selama 3 bulan.
    Contoh darah diperiksa setiap 2-4 minggu untuk memastikan bahwa jumlah sel darah putih tidak berkurang (karena salah satu efek samping dari obat ini adalah penurunan jumlah sel darah putih).

    Pilihan lainnya dalah obat semprot hidung desmopressin, yang mengurangi pengeluaran air kemih. Efek sampingnya sedikit tetapi harganya mahal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar